KAJIAN TEORI
A.
Posisi Tuhan dalam Agama
1.
Agama
Agama
berasal dari bahasa sansekerta, terdiri dari kata a yang artinya tidak, dan gama
yang berarti kacau. Secara istilah
artinya “aturan atau tatanan untuk mencegah kekacauan dalam kehidupan
manusia”. Dalam bahas barat dikenal
dengan istilah religion yang diambil
dari bahasa latin relegele yang
berarti mengikat erat-erat. Agama sebagai pengikat dalam kehidupan manusia yang
diwariskan dari mulai munculnya agama sampai generai terakhir. Pola yang
digunakan adalah paradigma, yang di
2.
Tuhan
Kata Tuhan dalam kamus
besar bahasa indonesia (KBBI) diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja,
dan disembah oleh manusia sebagai yang mahakuasa, maha perkasa dan sebagainya.
3.
Tuhan dalam Agama
Tuhan merupakan bagian pokok dari
semua agama dan filsafat. Agama tanpa adanya kepercayaan terhadap Tuhan maka
tidak bisa disebut sebagai agama.
4.
Pembagian Tuhan
4.1
Tuhan personal
Tuhan
yang berada dalam agama wahyu adalah Tuhan yang personal. Dalam agama-agama
wahyu (Yahudi, Kristen dan Islam), konsep Tuhan sudah jelas identitas-Nya
(setiap agama memiliki nama Tuhan). Tuhan memiliki sifat kesempurnaan. Tuhan
diinformasikan melalui wahyu sebagai
kitab suciyang diturunkan melalui utusan-utusan-Nya. Dalam kitab suci Tuhan dipersonifikasikan
sebagai pencipta alam dan pemelihara, maha mengetahui dan maha kuasa.
4.2
Adanya Tuhan
yang personal, juga terdapat Tuhan yang impersonal. Tuhan impersonal telah
termanifestasi dari ide atau akal manusia. Paham tentang Tuhan impersonal tidak
mementingkan eksistensi Tuhan sebagai pencipta atau tidak, yang penting adalah
Tuhansebagai yang awal dan yang akhir dari segala sesuatu. Dari pandangan
penganut paham Tuhan impersonal,
aktivitas Tuhan di dunia akan mengurangi kesempurnaan-Nya.
Tuhan personal dan Tuhan impersonal
pada prinsipnya dibedakan menjadi beberapa segi yaitu:
1
Tuhan
personal menekankan identitas diri-Nya pada zat yang sempurna dan disembah oleh
makhluk sebagai pengabdian terhadap penciptanya.Tuhan impersonal tidak
mementingkan identitasnya, akan tetapi mementingkan ide tentang-Nya yang
berkonsekuensi logis dari keberadaan wujud-Nya. Sehingga Tuhan impersonal tidak
perlu disembah dan dipuja
2
Tuhan
personal berasal dari petunjuk wahyu yang diberikan kepada utusan-utusannya,
sedangkan Tuhan impersonal adalah hasil dari kesimpulan ide atau pemikiran
manusia
3
Tuhan
personal mengaku dirinya sebagai zat yang sama sekali berbeda dengan makhluk.
Perbedaan itu terdapat pada sifat-Nya. Tuhan sebagai dzat yang maha kuasa, maha
mengetahui dan maha adil. Dengan perbedaan yang sangat jauh ini, maka Tuhan
mewajibkan mahkluk-Nya untuk menjaga hubungan baik Agar sifat-sifat Tuhan yang
besar dapat tersalurkan. Manusia diwajibkan menjalin hubungan baik dengan Tuhannya.
Tuhan impersonal tidak memperdulikan hubungan baik antara makhluk dengan Tuhan, KarenaTuhan hanya
dihasilkan dari manifestasi ide manusia
4
Tuhan
personal sangat menonjolkan perbedaan dengan makhluknya, bahwa Tuhan sebagai
pencipta dan makhluk sebagai yang diciptakan-Nya. Sedangkan Tuhan impersolan
tidak mementingkan perbedaan dengan makhluk. Bahkan perbedaan itu dihilangkan[1]
Dengan demikian, agama memandang Tuhan sebagai
suatu zat yang personal, sehingga dapat terjalin hubungan antara makhluk dengan
Tuhan dengan cara ibadah seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan sebagainya.[2]
Dalam perkembangan kepercayaan manusia, penulis
menggunakan teori yang dipelopori oleh E.B. Tylor, bahwa kepercayaan manusia
terhadap hal yang gaib sangat primitif
(dinamisme) dan bersahaja menuju pada kepercayaan yang lebih tinggi
(monoteisme) yang sesuai dengan perkembangan kemajuan peradabannya.[3]
Selain dari teori E.B. Tylor, dalam penelitian ini
juga menggunakan teori dari al-Kindi, salah seorang filsuf islam.Memahami dari
segi hakikat Tuhan, ia mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang haq
(sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan tiada
selama-lamanya, yang ada sejak awal dan akan senantiasa ada
selama-lamanya.Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak pernah didahului oleh
wujud yang lain, dan wujud-Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud
lain melainkan dengan perantara-Nya.
Mengenai sifat-sifat Tuhan, al-Kindi menonjolkan
ke Esa-an sebagai satu-satunya sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan besifat mutlak
yang menjadi sebab semua yang ada.
Selain dari pendapat al-kindi, juga terdapat
pendapat dari al-Razi, ia memiliki lima doktrin filsafat yaitu lima keabadian. Dari
lima keabadian itu, salah satunya
adalah Tuhan sebagai sesuatu yang hidup dan bergerak. Ia mengatakan Tuhan bersifat sempurna. Segala
sesuatu yang dilakukan-Nya bedasarkan kesengajaan. Seluruh kehidupan yang ada berasal
dari-Nya. Sebagaimana sinar matahari yang berasal dari matahari. Tuhan memiliki
kepandaian yang sempurna dan murni.[4]
Tuhan menurut al-Farabi adalah sebagai dzat Wajibu al-Wujud ( suatu wujud yang absolut yang bersatu dengan
Dzat-Nya). “Wajibu al-Wujud
mutlak ada untuk menghentikan bertasalsulnya sebab”. Terciptanya wujud-wujud[5]
lain adalah hasil emanasi dari Tuhan. Tuhan sebagai hakikat wujud yang tidak
tersusun dari materi dan bentuk. Tuhan juga tidak dapat didefinisikan karena
tidak memiliki spesies dan differentia (nau’ dan fashl).
Tuhan bersifat absolut dan transenden, sedangkan
manusia bersifat imanen, maka untuk bisa menjangkau kemutlakan Tuhan, al-Farabi
menggunakan perantara faham yang disebut
dengan nazariyatu al-faid (teori
emanasi)[6].