Rabu, 13 April 2016



BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Posisi Tuhan dalam Agama
1.    Agama
Agama berasal dari bahasa sansekerta, terdiri dari kata a yang artinya tidak, dan gama yang berarti kacau. Secara istilah artinya “aturan atau tatanan untuk mencegah kekacauan dalam kehidupan manusia”.  Dalam bahas barat dikenal dengan istilah religion yang diambil dari bahasa latin relegele yang berarti mengikat erat-erat. Agama sebagai pengikat dalam kehidupan manusia yang diwariskan dari mulai munculnya agama sampai generai terakhir. Pola yang digunakan adalah paradigma, yang di

2.    Tuhan  
Kata Tuhan dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang mahakuasa, maha perkasa dan sebagainya.

3.    Tuhan dalam Agama
Tuhan merupakan bagian pokok dari semua agama dan filsafat. Agama tanpa adanya kepercayaan terhadap Tuhan maka tidak bisa disebut sebagai agama.

4.    Pembagian Tuhan
4.1     Tuhan personal
Tuhan yang berada dalam agama wahyu adalah Tuhan yang personal. Dalam agama-agama wahyu (Yahudi, Kristen dan Islam), konsep Tuhan sudah jelas identitas-Nya (setiap agama memiliki nama Tuhan). Tuhan memiliki sifat kesempurnaan. Tuhan diinformasikan  melalui wahyu sebagai kitab suciyang diturunkan melalui utusan-utusan-Nya. Dalam kitab suci Tuhan dipersonifikasikan sebagai pencipta alam dan pemelihara, maha mengetahui dan maha kuasa.
4.2     Adanya Tuhan yang personal, juga terdapat Tuhan yang impersonal. Tuhan impersonal telah termanifestasi dari ide atau akal manusia. Paham tentang Tuhan impersonal tidak mementingkan eksistensi Tuhan sebagai pencipta atau tidak, yang penting adalah Tuhansebagai yang awal dan yang akhir dari segala sesuatu. Dari pandangan penganut paham Tuhan  impersonal, aktivitas Tuhan di dunia akan mengurangi kesempurnaan-Nya.
Tuhan personal dan Tuhan impersonal pada prinsipnya dibedakan menjadi beberapa segi yaitu:
1           Tuhan personal menekankan identitas diri-Nya pada zat yang sempurna dan disembah oleh makhluk sebagai pengabdian terhadap penciptanya.Tuhan impersonal tidak mementingkan identitasnya, akan tetapi mementingkan ide tentang-Nya yang berkonsekuensi logis dari keberadaan wujud-Nya. Sehingga Tuhan impersonal tidak perlu disembah dan dipuja
2           Tuhan personal berasal dari petunjuk wahyu yang diberikan kepada utusan-utusannya, sedangkan Tuhan impersonal adalah hasil dari kesimpulan ide atau pemikiran manusia
3           Tuhan personal mengaku dirinya sebagai zat yang sama sekali berbeda dengan makhluk. Perbedaan itu terdapat pada sifat-Nya. Tuhan sebagai dzat yang maha kuasa, maha mengetahui dan maha adil. Dengan perbedaan yang sangat jauh ini, maka Tuhan mewajibkan mahkluk-Nya untuk menjaga hubungan baik Agar sifat-sifat Tuhan yang besar dapat tersalurkan. Manusia diwajibkan menjalin hubungan baik dengan Tuhannya. Tuhan impersonal tidak memperdulikan hubungan baik antara  makhluk dengan Tuhan, KarenaTuhan hanya dihasilkan dari manifestasi ide manusia
4           Tuhan personal sangat menonjolkan perbedaan dengan makhluknya, bahwa Tuhan sebagai pencipta dan makhluk sebagai yang diciptakan-Nya. Sedangkan Tuhan impersolan tidak mementingkan perbedaan dengan makhluk. Bahkan perbedaan itu dihilangkan[1]
Dengan demikian, agama memandang Tuhan sebagai suatu zat yang personal, sehingga dapat terjalin hubungan antara makhluk dengan Tuhan dengan cara ibadah seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan sebagainya.[2]
Dalam perkembangan kepercayaan manusia, penulis menggunakan teori yang dipelopori oleh E.B. Tylor, bahwa kepercayaan manusia terhadap hal yang gaib sangat primitif  (dinamisme) dan bersahaja menuju pada kepercayaan yang lebih tinggi (monoteisme) yang sesuai dengan perkembangan kemajuan peradabannya.[3]
Selain dari teori E.B. Tylor, dalam penelitian ini juga menggunakan teori dari al-Kindi, salah seorang filsuf islam.Memahami dari segi hakikat Tuhan, ia mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang haq (sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan tiada selama-lamanya, yang ada sejak awal dan akan senantiasa ada selama-lamanya.Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak pernah didahului oleh wujud yang lain, dan wujud-Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan dengan perantara-Nya.
Mengenai sifat-sifat Tuhan, al-Kindi menonjolkan ke Esa-an sebagai satu-satunya sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan besifat mutlak yang menjadi sebab semua yang ada.
Selain dari pendapat al-kindi, juga terdapat pendapat dari al-Razi, ia memiliki lima doktrin filsafat yaitu lima keabadian. Dari lima keabadian itu,   salah satunya adalah Tuhan sebagai sesuatu yang hidup dan bergerak.  Ia mengatakan Tuhan bersifat sempurna. Segala sesuatu yang dilakukan-Nya bedasarkan kesengajaan. Seluruh kehidupan yang ada berasal dari-Nya. Sebagaimana sinar matahari yang berasal dari matahari. Tuhan memiliki kepandaian yang sempurna dan murni.[4]
Tuhan menurut al-Farabi adalah sebagai dzat Wajibu al-Wujud ( suatu wujud yang absolut yang bersatu dengan Dzat-Nya). “Wajibu al-Wujud mutlak ada untuk menghentikan bertasalsulnya sebab”. Terciptanya wujud-wujud[5] lain adalah hasil emanasi dari Tuhan. Tuhan sebagai hakikat wujud yang tidak tersusun dari materi dan bentuk. Tuhan juga tidak dapat didefinisikan karena tidak memiliki spesies dan differentia (nau’ dan fashl).
Tuhan bersifat absolut dan transenden, sedangkan manusia bersifat imanen, maka untuk bisa menjangkau kemutlakan Tuhan, al-Farabi menggunakan perantara  faham yang disebut dengan nazariyatu al-faid (teori emanasi)[6].




[1]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama1(jakarta: rajawali pers, 2012), 197.
[2]Ibid.
[3]Ibid., 56
[4] Iswahyudi, Pengantar Filsafat Islam (Ponorogo : STAIN Po PRESS, 2011), 105-106.
[5] Wujudnya adalah wujud yang baru, dimana antara dzat dan sifatnya terdapat perbedaan yang hakiki. Ibid,. 129.
[6] Teori emanasi adalah konvergensi metafisika Aristoteles dan plotinus. Ibid,. 130.